Showing posts with label Fanfic. Show all posts
Showing posts with label Fanfic. Show all posts

FANFIC - you belong with me

Title : You Belong With Me
Author : Kanon Kuroii
Chapter : Oneshot
Genre : fluff, slight angst
Pairing : Uruha/Aoi
Rating : PG
Warning : none
Disclaimer : I don’t own them.
Comment : bagi kalian yang mencari humor di fanfic ini, sayang sekali tidak ada! >3




Lagi – lagi kau sedang bertengkar dengan kekasihmu. Lagi – lagi kau bertengkar karena hal sepele. Kau bertengkar dengannya karena ia tidak mengerti tentang selera humormu. Aku memandangmu dari balik jendela kamarku. Kamarmu yang berwarna biru tua dengan berbagai macam poster yang tertempel di dindingmu dan barang – barang yang tergeletak di atas kasurmu. Dan dirimu yang sedang berteriak kepada pacarmu yang sedang menelefonmu. Malam ini seperti malam – malam yang lain. Dimana aku hanya duduk di atas kasurku sambil mengerjakan tugas sekolah atau hanya mengulang pelajaran yang di ajarkan di sekolah tadi sambil mendengarkan lagu yang pacarmu tidak sukai.

Kita berdua adalah teman sejak kecil. Kita selalu bersama karena letak rumah kita yang bersebelahan dan letak kamar kita yang berhadapan dan hanya di pisahkan oleh pagar rumah yang tingginya tidak lebih dari satu setengah meter. Oh, tentu saja kamarku dan kamarnya berada di lantai dua. Saat kecil kita selalu melakukan segalanya bersama, sekolahan yang sama, kelas yang sama, bahkan kami duduk bersebelahan. Kadang kau pun selalu merengek kepada orang tuamu agar membelikan baju yang sama denganku. Namun saat kita menginjak sekolah menengah ke atas, kau mulai berubah. Rambut hitammu kau cat menjadi berwarna coklat keemasan. Kau mulai sering menggunakan makeup ke sekolah. Kau menjadi kapten basket. Dan kau pun menjadi populer...

Tidak sadarkah kau kalau sekarang dunia kita berbeda?

Aku menoleh ke arah kamarnya dan menyadari kalau kau telah menatapku dan memegang secarik kertas.

Apa yang kau lakukan sekarang?

Aku tertawa kecil membaca tulisannya, membuat senyumnya hilang dan ia cemberut kepadaku yang selalu terlihat menakjubkan di mataku. Aku selalu heran dengan cara kami saling berkomunikasi. Sejak kecil, kami selalu menggunakan kertas untuk saling berbicara. Karena kami berdua tidak memiliki telefon di dalam kamar kami, dan kami selalu ingin mengobrol dengan menatap muka masing – masing. Aku pun mengambil kertas yang selalu ku simpan di bawah kasur agar mudah saat kita mengobrol.

Belajar seperti biasa.

Balasku.

Ne, Aoi. Hibur aku...

Tulisnya dengan tinta biru. Aku pun berdiri dari kasurku dan berjalan ke arah lemariku. Aku pun mengeluarkan sepasang boneka tangan, yang satu berambut hitam dan menggunakan baju bertuliskan ’A’. Sedangkan yang satunya berambut coklat dan menggunakan baju brtuliskan ’U’. Yap, itu kamu. Aku pun kembali duduk di kasurku dan menatap dirimu yang sedang duduk di seberang kamarku, menaikkan sebelah alismu dengan bingung. Namun bibirmu langsung tersenyum lebar saat aku mengeluarkan boneka yang sudah pasti kau ingat. Boneka yang kita berdua buat saat pelajaran PKK saat kita berada di kelas delapan dulu, kau memberikan bonekamu kepadaku karena waktu itu kau beranggapan kalau laki – laki tidak pantas bermain boneka. Dan boneka itu sekarang adalah salah satu harta karunku.

Dan kau tertawa saat aku menarikan tarian bodoh dengan kedua boneka itu. Aku pun ikut tertawa, karena jika kau bahagia, maka aku pun bahagia. Namun tertawamu berhenti dan di gantikan oleh senyuman lembut saat bonekaku memeluk bonekamu. Senyum yang hanya bisa keluar saat kamu bersamaku. Apakah kau tahu kalau senyuman itu selalu membuatku dalam hati menangis?

Karena aku tidak bisa memilikimu...




Sudah kembali ceria?

Tanyaku kepadanya.

Terima kasih Aoi, kau selalu dapat membuatku tertawa.

Aku hanya tersenyum kecil membaca tulisanmu. Kau selalu berkata kalau aku selalu membuatmu tertawa, kalau aku dapat menghilangkan amarahmu, selalu mendengarkan keluhanmu, selalu paling mengerti dirimu. Tapi kenapa kau tidak menjadi miliku? Tidakkah kau merasa kalau aku yang paling mengerti dirimu?

Saat aku akan membalas tulisanmu, aku mendengar telefon genggamku berbunyi. Aku pun mengangkatnya, rupanya itu adalah Sou. Sou adalah temanku satu – satunya di sekolah, tentu saja saat kamu sedang bersama dengan anak populer yang lain. Ia hanya bertanya mengenai pelajaran yang kurang ia mengerti di sekolah tadi, dan aku pun menjelaskannya kepadanya. Tanpa kusadari kami mengobrol mengenai hal lain sampai begitu lama. Dan saat aku menutup telefon itu lalu menoleh ke arah kamarmu, kau sudah menutup tirai kamarmu. Aku pun hanya terduduk di pinggir tempat tidurku sambil menatap ke kamarmu. Kenapa kau lebih memilihnya daripada aku? Aku tahu aku hanya seorang kutu buku yang selalu belajar dimana saja. Berbeda dengannya yang merupakan seorang pemimpin cheerleader. Aku tahu aku hanya menggunakan kaos biasa yang sudah usang, sedangkan ia yang selalu menggunakan baju bermerk. Kami memang berbeda.

Aku pun akhirnya memuruskan untuk tidur, karena besok aku harus pergi ke sekolah. Aku pun naik ke atas tempat tidur dan membenamkan tubuhku ke hangatnya selimut, tanpa menutup tiraiku. Tanpa kusadari, aku pun membisikan sebuah kata...

“Selamat tidur, Uruha... I love you,”




Dan tanpa aku sadari, ia menatapku dari balik tirai kamarnya. Senyum kecil terlukis di bibirnya.

...

Aku duduk di teras depan rumahku dangan buku gambar berada di pangkuanku. Kadang – kadang aku suka mencari inspirasi untuk menggambar dengan duduk di depan terasku. Namun aku tidak menemukan inspirasi hari ini, aku hanya menatap ke arah jalan besar dengan tatapan kosong. Akhir – akhir ini pikiranku selalu di penuhi dengan dirimu. Lalu aku pun menyadari bahwa seseorang telah duduk di sebelahku, dan itu adalah kau.

“Hey...” kau menyapaku dengan suara beratmu dan senyummu yang sangat ku cintai. Aku pun hanya membalas dengan senyuman kecil. Kau selalu muncul di hadapanku dengan tiba – tiba dan dengan senyum yang selalu sama setiap hari.

“Kali ini apa yang sedang kau buat?” Uruha bertanya kepadaku sambil menunjuk buku gambar yang berada di pangkuanku. Aku pun menatap kertas gambar yang masih berwarna putih polos dan belum ada coretan sama sekali di atasnya.

“Nah, aku belum menemukan inspirasi... mungkin kau bisa mencarikannya untukku?” aku memberanikan diriku untuk menatap kedua matamu. Mata yang berwarna coklat bening yang memancarkan kelembutan kepadaku. Kau pun memalingkan pandanganmu dariku dan mengerutkan alismu, seperti sedang mencari sesuatu.

“Ah! Bagaimana kalau itu!?” aku mengikuti arah yang di tunjukkan oleh jari telunjuknya, dan jari itu tertunjuk kepada Kurawa-san, tetangga seberang rumahku yang setiap hari selalu mengeluh dengan ulah anak muda jaman sekarang, walaupun ia menyukaiku karena di matanya aku adalah anak baik. “Aku yakin kau dapat menggambar kerutan di seluruh mukanya dengan sempurna, Aoi!”. Aku pun tertawa mendengar ejekannya, walaupun Kurawa-san memang sudah berumur hampir lima puluh tahun, tetapi tidak ada satu kerutan pun di wajahnya. Dan Uruha selalu menjadikannya sebagai objek celaan karena menurutnya Kurawa-san memiliki kerutan sangat banyak di wajahnya namun ia sering operasi pelastik.

“Hentikan itu Uruha... dia orang yang baik,” aku berusaha membela Kurawa-san dan memukul pundak Uruha dengan pelan, membuat Uruha menatapku dengan tatapan kesal dan ia lagi – lagi cemberut dengan bibirnya yang tebal itu. Namun beberapa saat kemudian ia tertawa, karena aku tahu, Uruha tidak akan pernah bisa marah denganku. Ia pun mengusap – ngusap rambutku dengan kencang sehingga membuat rambutku berantakan. Dan kali ini akulah yang cemberut, tapi ia malah tertawa lebar dan mencubit kedua pipiku dengan tangan panjangnya. Rasanya semuanya kembali seperti semula, kembali saat kau belum mengenalnya.

Namun semua keceriaan itu berhenti ketika kami mendengar suara kelakson mobil di depan rumahku, dan aku menemukan sebuah mobil berwarna putih metalik dan terlihat sosok pacar Uruha dari balik jendela mobil itu, sepertinya ia tidak terlihat senang. Aku mendengar Uruha menghelakan nafas dengan pelan dan beranjak dari sampingku. Aku ingin menarik lengannya dan mengatakan agar jangan pergi, namun ternyata aku hanya terdiam dan memandang punggung Uruha yang perlahan menjauh dariku dan masuk ke dalam mobil itu. Dan yang membuat jantungku berhenti saat itu juga adalah saat pacar Uruha menarik kerah baju Uruha dan menyatukan kedua bibir mereka, tepat di hadapanku. Aku hanya terdiam melihat mereka, rasanya badanku seketika lemas. Aku tidak dapat melihat ekspresi muka Uruha karena ia membelakangiku, namun aku dapat melihat ekspresi pacarnya yang menatapku dengan tajam dan dengan penuh kebencian. Membuat jantungku berhenti saat itu juga. Tanpa ku sadari aku meremas kertas gambar itu di dalam kepalanku.

Dan lagi – lagi aku menatapmu pergi dengannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun denganku.



Dan tanpa ku sadari, air mata turun dari kedua mataku dan membasahi pipiku.

...

Aku menoleh dari layar laptopku ketika aku mendengar benturan keras dari kamar tidurmu. Kau baru saja membanting pintu kamarmu. Kau membanting telpon genggammu ke kasur dengan kasar. Rambutmu terlihat berantakan dan raut mukamu terlihat sangat kesal, membuatku bertanya ada apa denganmu? Kemana kepribadianmu yang tenang dan selalu tersenyum saat memasuki kamarku karena kau tahu kalau aku pasti sedang berada di kamarku. Aku pun segera mengambil kertas dan menuliskan sesuatu,

Apa kau tidak apa – apa? Ada apa denganmu?

Aku terus memegang kertas itu dan menunggumu sampai kau menoleh ke arahku. Saat kau menatapku, raut mukamu menjadi tenang kembali. Kau pun duduk di ujung kasur yang menghadap kasurku dan menghelakan nafasmu, lalu kau pun menatapku dan menunjukan muka ‘aku minta maaf karena membuatmu khawatir’ dan kau pun tertawa pelan. Namun kali ini aku tidak tertawa dan hanya menatapmu, aku tahu pasti di dalam hatimu kamu pasti sedang menangis. Dan air mata pun mengalir ke pipiku.

Kau terlihat terkejut saat melihatku menangis, karena ku akui aku tidak pernah menangis sejak aku kelas tujuh. Namun sejak kau mulai bersamanya, tanpa kau ketahui, aku selalu menangis tengah malam. Saat semuanya—termasuk kau—sudah tertidur lelap. Aku ingin memilikimu, aku ingin agar kau selalu bersamaku, aku ingin kau mencintaiku. Namun aku tahu aku tidak akan bisa memilikimu.

Kenapa kau menangis?

Aku memandang tulisannya cukup lama, lalu menatap wajahnya. Wajahnya tidak lagi terlihat kesal, namun sekarang ia terlihat khawatir kepadaku. Aku pun membalasnya.

Aku mewakilimu untuk menangis, karena aku tahu kau pasti tidak ingin menangis walaupun dalam hatimu kamu telah menangis dengan kencang, Uruha.

Dan kau pun terdiam menatapku saat membacanya. Aku pun hanya menundukkan kepalaku, aku tidak berani menatapmu. Air mataku tidak berhenti dan malah mengalir dengan bebas sekarang, rasanya rasa sakit ini telah meledak dan aku ingin mengeluarkan segalanya. Aku ingin kau mengerti bahwa selama ini bukan dialah yang paling mengerti dirimu, tetapi aku. Aku tahu segalanya tentangmu. Aku tahu minuman kesukaanmu, aku tahu apa barang yang paling kau sayangi, dan dia tidak pernah mengetahuinya seperti aku. Karena aku selalu ada untukmu.

Aku mendengar pintu kamarmu tertutup dan kau tidak ada di kamarmu. Membuat air mataku semakin mengalir semakin deras. Aku pun menarik kakiku agar menempel dengan perutku dan membenamkan kepalaku di baliknya. Aku menangis dengan keras, tangisanku terdengar ke seluruh kamar. Karena aku telah kalah, aku tetap tidak bisa menjaga perasaanku kepadamu sehingga persahabatan kita hancur. Namun aku mendengar pintu kamarku terbuka dan aku melihatmu sedang bersandar di samping pintu, berusaha mengatur nafasmu yang tidak beraturan. Kenapa? Kenapa kau menemuiku? Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapanmu... kau selalu melindungiku dari semenjak kita kecil dulu.

Perlahan kau pun berjalan ke arahku yang sedang meringkuk di atas kasur dan duduk di sebelahku, aku pun membenamkan kembali wajahku ke di balik dengkulku. Namun, aku merasakan jari panjang dan lembutmu memegang daguku dan mengangkat kepalaku dengan perlahan agar kau dapat melihatku. Aku menatap mukamu yang terlihat sedih. Aku mohon, jangan sedih... karena aku tidak ingin melihatmu sedih.

“Aoi...“ kau memanggil namaku dengan suara lembutmu, tanganmu pun perlahan mengusap pipiku dan menghapus air mata di pipiku. “Ku mohon jangan menangis, aku tidak ingin melihatmu menangis...“ aku menatap matamu yang berair, seperti sedang menahannya agar tidak tumpah.

“Kumohon Uruha, kumohon agar kau tidak bersamanya... aku tidak ingin melihatmu bersamanya, aku tidak ingin melihatmu kesal saat masuk ke kamarmu, aku ingin agar kau masuk ke dalam kamarmu dalam keadaan gembira seperti dahulu... karena aku senang melihatmu tersenyum. Senyum yang hanya di tunjukkan kepadaku. Aku ingin menghajar dia karena telah membuatmu seperti itu...“ Aku akhirnya menunmpahkan segalanya yang selama ini selalu ku pendam tentangmu. Aku pun memegang tanganmu yang berada di pipiku dan mencengkramnya dengan kencang. “...kumohon, kembalilah menjadi Uruha seperti dulu. Uruha yang senang berteman dengan siapa saja dan tidak menjadi populer. Uruha yang selalu berada di sampingku kapan saja. Uruha yang selalu merengek kepada orang tuanya agar memiliki baju yang sama sepertiku...“ aku memegang tanganmu dengan tanganku yang gemetaran.

“Aoi...“ Sebelum kau sempat menyelesaikan kata – katamu, aku menaruh jari telunjukku di bibirmu dan membuatmu menjadi terdiam. Aku pun mengambil sebuah kertas yang selama ini selalu berada di bawah kasurku. Kertas yang sudah aku simpan selama lebih dari tiga tahun yang lalu dan aku tidak pernah menunjukkan padamu. Karena aku yakin kalau aku menunjukkannya kepadamu, pasti semuanya akan berubah. Kau pasti akan membenciku dan tidak akan pernah mau berteman denganku lagi. Tapi saat ini aku sudah tidak peduli tentang semua itu. Aku hanya ingin kau tahu bagaimana perasaanku selama ini mengenaimu...


I love you.


Aku menunjukkan kertas itu kepadamu. Kertas putih yang sudah terluhat lusuh dan kucel. Namun bertintakan tinta merah mengenai perasaanku kepadamu. Kau pun menarik nafasmu dengan dalam saat membaca tulisan itu. Tanganmu terlepas dari pipiku, membuatku ketakutan karena kau pasti akan pergi meninggalkanku. Namun kau tetap di hadapanku dan meronggoh saku celanamu. Aku menaikkan sebelah alisku saat melihatmu mengeluarkan secarik kertas yang sudah terlipat – lipat dan membukanya perlahan.


I love you


Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Ini semua tidak mungkin terjadi. Aku pun menatap wajahmu dengan tidak percaya, dan kau hanya tersenyum lembut. Senyum yang selalu kau berikan kepadaku. Lalu aku pun merasakan tanganmu yang meligkar di sampingku dan menarikku ke arahmu. Kepalaku pun menempel di pundakmu. Aroma parfummu yang mencerminkan dirimu tercium jelas di hidungku, membuatku menghisapnya dengan perlahan karena aku menyukai aromamu. Aku merasakan tanganmu melingkar di pinggangku dan mendekapku dengan kencang, menyatukan kita berdua. Dan dengan lembut kau mencium pipiku yang basah dengan bibir lembutmu.

“I love you...“ Kau terus menerus membisikkan kata – kata itu di telingku bagaikan mantra. Membuatku memejamkan mata dan semakin memegang kaosmu dengan kencang. Rasanya badanku memanas dan aku dapat menguap kapan saja. Namun kenapa kau mengatakan ini semua setelah semua ini terjadi? Setelah aku hampir menyerah untuk mendapatkanmu, setelah aku ingin merelakanmu dengannya? Setelah kau membuatku yakin bahwa kau tidak menyukaiku?

Aku pun menarik badanku dari dekapanmu, aku butuh penjelasan mengenai semua ini. Kau pun menatap wajahku dengan bingung dan aku pun menatapmu. Air mataku telah berhenti mengalir dan sekarang membuat lengket pipiku, namun aku tidak peduli. “Kenapa?“

Kau menatap wajahku dengan bingung, dan kau sekali lagi memegang pipiku dengan tanganmu dan mendekatkan wajahmu untuk mencium pipiku, namun aku menarik kepalaku dan membuat tanganmu terlepas dari pipiku. Kau pun menatapku dengan kesal, karena aku menolak sentuhanmu. Namun aku butuh memastikannya apakah kau benar – benar menyukaiku.

“Uruha... kenapa kau baru mengatakan ini setelah semuanya terjadi? Kenapa kau bersamanya kalau kau menyukaiku?“ tanyaku dengan suaraku yang parau karena menangis.

Kau terdiam mendengar pertanyaanku barusan, dan aku pun hanya menundukkan kepalaku. Terlalu takut untuk menatap wajahmu yang marah. Namun kau kembali menarikku ke dalam pelukanmu sehingga membuatku memendamkan kepalaku di antara leher dan pundakmu. Uruha pun menarik nafasnya dalam – dalam.

“Karena aku takut... aku takut apabila aku mengatakannya kepadamu, kau akan menolakku dan pergi meninggalkanku. Karena kau terlihat seperti yang lain, tidak menyukai sesama jenis. Karena itu aku takut kau jijik kepadaku karena aku berbeda. I love you...“ Uruha mendekapku semakin kencang, membuatku sedikit sesak nafas. Tapi aku hiraukan itu. “Karena itu aku mencoba untuk berpacaran dengannya agar aku dapat melupakan rasa sayangku kepadamu. Tapi aku tidak bisa... setiap aku menyebut namamu, dia selalu menjelek – jelekkanmu dan aku selalu marah setiap dia melakukan hal itu. Dan semua itu membuatku tersadar kalau aku memang benar – benar mencintaimu… maafkan aku, Aoi. Maafkan aku karena selama ini aku telah menyakitimu,” aku merasakan kaosku basah oleh air matamu, namun aku tidak peduli. Aku tahu kalau kau mengatakan yang sebenarnya. Karena seorang Uruha tidak pernah menangis sebelumnya.

Kau pun melepaskan pelukanmu sehingga mata kami dapat saling bertemu. Matamu tidak menunjukkan kesedihan lagi, melainkan menunjukkan kebahagiaan. Bibirmu pun tersenyum lebar kepadaku, dan hanya untukku. Kau pun memegang kedua pipiku dan mendekatkan wajahmu lagi. Namun kali ini aku tidak menghindar, karena aku tahu kalau aku pun menginginkannya. Ciuman pertama kami terasa begitu naïf. Kami hanya menyatukan kedua bibir kami tanpa melakukan apa – apa. Lalu kau pun melepaskannya dan menidurkanku di kasur dengan perlahan. Aku pun dengan gugup melingkarkan tanganku ke balik lehermu, pipiku memerah. Namun kau hanya tertawa pelan melihatku. Dan kau menciumku lagi, ciuman yang lebih hangat dan panas. Aku pun merasakan air mata di kedua pipimu menyatu dengan air mataku. Aku merasakan nafas hangatmu menyatu dengan nafasku. Aku merasakan nyawamu menyatu dengan nyawaku. Kau pun pasti merasakannya kan, Uruha?

If you could see that I’m the one who understands you
Been here all along, so why can’t you see?
You belong with me…

Standing by and waiting at your back door
All this time how could you not know?
Baby, you belong with me.

You belong with me…




END.


A/N FANFIC PERTAMA URUHA/AOI GUW!! XDD – ini fanfic pertama guw yang penuh dengan perasaan… guw juga ga tauk dah dapet darimana kata – kata najong keak gitu... XD — pertamanya guw mencoba untuk membuat fluff. Bikan angst! Tapi kenapa jadi campur aduk gini yah?? – tapi semoga semuanya menikmati<3>


FANFIC - usual love story, [chapter 10]

Title : usual love story
Author : Kanon Kuroii
Chapter : 10/??
Genre : romance, humor
Pairing : AoixUruha, UruhaxAoi, ToraxAoi (one-sided), more to come
Rating : PG-13
Warning : Manxman, idiot author, hentai Tora!
Disclaimer : I put them in the dungeon. I DON’T OWN THEM!
Comment : fanfic series pertama^^d

Prologue/Chapter 1/Chapter 2/Chapter 3/Chapter 4/Chapter 5/Chapter 6/Chapter 7/Chapter 8/Chapter 9



A/N gomen baru lanjoooooooooot!! >.< -- abisnya akhir akhir ini lage ga mut ngetik. =w=a bahkan keaknya capter seanjutnya makin lama lagi. soalnya belon ada ide. XP gomen!


Uruha memarkirkan mobilnya di ujung taman dan berjalan menuju toko SCREAM PARTY, dimana teman – teman barunya berada.

“IRASHAI MA— oooh~ Uru-chaaan~” sapa Takeru gembira saat melihat Uruha yang masuk ke dalam toko mereka. Uruha pun hanya membalas Takeru dengan senyumannya. Sebenarnya kedatangan Uruha kemari untuk mencari Aoi. Tapi Aoi tidak terlihat di mana – mana.

“Ada apa kau kemari?” Takeru pun menuntun Uruha untuk duduk di sofa belakang meja kasir—dimana tempat Aoi sering duduk—

“Aku hanya mencari Aoi.” Jawab Uruha jujur. “Aku ingin bertanya ada apa dengan bibirnya yang robek,” Uruha menunjukkan wajah khawatir.

“Ooh~ masalah itu...” jawab Takeru dengan tenang.

“Kau tahu!?” Uruha menatap Takeru dengan tidak percaya.

“Of course!” Takeru menepuk – nepuk dadanya dengan bangga. “Aou kan selalu menceritakan segalanya padaku!”

“Lalu?”

***

Aoi memasuki toko SCREAM PARTY. Gitar hitamnya seperti biasa bertengger manis di punggungnya. Ia mendapatkan massage dari Takeru tadi siang, bahwa ia harus menemuinya di SCREAM PARTY karena Takeru rindu padanya. Aoi tidak dapat menolak permintaan Takeru karena Takeru adalah temannya yang berharga. Yang membuatnya merasakan kehangatan seorang ibu yang senang memeluk anaknya. Walaupun Takeru bukanlah seorang wanita.

“Aoi!“ Masato berlari ke arah Aoi dan memeluknya. “Irashai...“

“M—masato...“ Aoi berusaha melepaskan pelukan Masato dari tubuhnya. “Kau bersikap seperti Takeru saja... lepaskan aku!“

“Hehe. Gomen, gomen.“ Masato pun melepaskan pelukannya. “Oh! Kau tahu kalau Uruha ada di sini kan?“

“Apa!?“ Aoi menatap Masato dengan kaget. Masato pun hanya mengangguk pelan.

Akhirnya Aoi pun berjalan masuk ke dalam toko itu dan menemukan Uruha yang sedang bercanda dengan Takeru. Uruha tertawa dengan lepas. Baru pertama kali ini ia melihat muka Uruha yang begitu ceria dan bahagia, ia pun merasakan ada yang aneh di dalam dadanya.

“Ooh! AOUUUUUUUU!!” Takeru menyadari kedatangan Aoi dan segera beranjak dari sofa dan memeluk Aoi. Kecupan manis di pipi pun mendarat dengan mulus di pipi Aoi. Uruha hanya melihat mereka dari sofa. Walaupun dalam hatinya ia merasa iri pada Takeru karena bisa bersikap begitu santai dengan Aoi. Begitu pula dengan Aoi kepada Takeru.

“Takeru!“ Aoi berusaha melepaskan lengan Takeru yang melingkar di lengannya. Takeru pun dengan cepat langsung memukul kepala Aoi dengan tangannya. Membuat Aoi berteriak kesakitan.

“—Bukan Takeru. Tapi Mommy...“ ucapnya dengan dingin. Bibir tipisnya cemberut dengan cepat.

“Maaf, Mommy…” jawab Aoi pasrah. Takeru pun hanya tersenyum lebar.

Tiba – tiba pintu toko terbuka dan pelanggan pun masuk ke dalam. “Takeru! Pelanggan!” teriak Yuji dari depan toko.

“YAA!” Takeru pun membalasnya dan berjalan ke arah depan toko. Meninggalkan Aoi dan Uruha sendirian.

Dengan santai, Aoi pun duduk di sebelah Uruha. Uruha pun membenarkan posisi duduknya dan menundukkan kepalanya ke bawah.

“A—Aoi,” Uruha memanggil Aoi dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar. Tapi Aoi mendengarnya dan menatap Uruha.

“Aku sudah mendengar cerita dari Takeru tentang luka di... bibirmu,” Uruha menggigit bibir bawahnya. Tidak begitu yakin apakah ia akan melanjutkan ceritanya. Ia sangat takut membuat Aoi marah. “Aku turut prihatin,”

Aoi hanya tertawa dengan pelan, senyumannya tawar. “Tidak ada yang perlu kau kasihani,”

Uruha pun mengangguk pelan dan menatap baju – baju yang di pajang di etalase toko. Semuanya begitu warna – warni.

“Kau tahu Aoi, aku merasa iri melihat sikap Takeru dan yang lain terhadapmu.” Uruha tersenyum kecil. Aoi hanya menatap lantai di depannya, mendengarkan apa yang di katakan Uruha. “—Mereka begitu dekat denganmu, kau terlihat bahagia saat bersama mereka. Kau bisa tertawa bersama mereka, berbeda saat bersamaku. Kau tidak pernah menunjukkan ekspresi kepadaku. Kau menceritakan semua masalahmu kepada mereka, tapi kau tidak pernah menceritakannya kepadaku. Kadang aku berpikir, apakah kau menganggapku sebagai teman?” Uruha memberanikan dirinya untuk menatap Aoi. Aoi pun menatapnya, ia menggigit tindikan di bibirnya dan raut mukanya seperti sedang menimbang – nimbang sesuatu. Uruha pun mengembalikan pandangannya ke arah lantai ketika ia merasakan bahunya yang tiba – tiba saja berat.

Uruha memalingkan kepalanya kembali dan menemukan Aoi telah bersandar ke bahunya. Mata hitamnya tertutup dengan rapat. Uruha hanya terdiam di tempat, tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ia merasakan mukanya mulai memerah dengan perlahan. Haruskah dia memeluk pundak Aoi dan mendekapnya?

“A—Aoi,” Uruha berusaha menjauhkan dirinya dari Aoi, namun tangan Aoi dengan cepat langsung menarik tangan Uruha agar Uruha tidak pergi.

“Sebentar... biarkan seperti ini sebentar,” ucapnya pelan. Uruha pun hanya mengangguk pelan. Sejujurnya, ia menikmati saat saat seperti ini bersama Aoi.

Uruha menatap Aoi dengan seksama dan menemukan ada tanda merah di leher sebelah kirinya. “Aoi, mengapa ada tanda merah pada lehermu?“ tanyanya polos.

Dalam sekejap mata Aoi langsung terbelalak dan melepaskan senderannya dari pundak Uruha. Tora! – pikiran Aoi langsung tertuju pada orang yang sudah pasti memberikan tanda ini kepadanya tadi siang. “...Bukan apa – apa,“ jawabnya gugup sambil menutupi tanda tersebut dengan tangannya.

Benar, ini bukan apa – apa.

***

Miyavi bersandar di pinggir kolam renang pribadi keluarganya. Secangkir sake dengan manis bertengger di tangan kanannya. Seperti biasa ia hanya menghabiskan waktunya dengan bermalas – malasan atau bermain gitar. Ia melihat Aoi keluar dari dalam rumah dan berjalan ke arahnya.

“Selamat siang adikku tercinta, ada yang bisa ku bantu?“ ucapnya sambil menoleh ke arah Aoi yang duduk di kursi santai di dekat kolam renang.

Aoi menatap kakaknya yang sedang bersantai di kolam renang, memang Miyavi adalah kakaknya, tapi ia tidak begitu dekat dengan Miyavi. Karena Miyavi adalah orang yang sangat berbeda dengan dirinya. Ia memiliki sifat yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Sangat berbeda dengan dirinya. Ia pun menghelakan nafasnya dengan pelan. “Aku ingin bicara denganmu, bisa?“

Miyavi tersenyum kecil mendengar tawaran adiknya itu dan keluar dari kolam renang. Ia pun duduk di kursi sebelah Aoi yang kosong. “Apa saja untuk adikku tercinta! Ayo, ceritalah...“

Aoi menggigit bibir bawahnya, terlalu bingung untuk mulai cerita ini dari mana. Akhirnya ia pun menarik nafas dalam – dalam. “—Kau tahu kalau aku anak yang anti sosial kan?“ Miyavi hanya mengangguk mendengar pernyataan adiknya barusan. “Emm... ada seorang anak dari sekolahku yang ingin berteman denganku. Aku menolaknya dan ia terus memaksaku, dan aku mengatakan ia. Sejujurnya aku merasa senang karena akhirnya memiliki teman, ia sangat baik dan perhatian padaku. Dia bahkan marah saat melihat lukaku yang di pukul oleh ayah. Tapi...”

Miyavi tersenyum melihat tingkah adiknya yang seperti orang kelabakan. Ia belum pernah melihat adiknya seperti ini sebelumnya. ”—Kau mencintainya...” ucapnya singkat.

“APA!?” Aoi hampir saja menggigit lidahnya sendiri saat mendengar penjelasan Miyavi yang singkat itu. Tidak mungkin dia suka Uruha karena mereka sudah pasti sama – sama laki – laki. Dan dia bukan gay. Jadi hal itu tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin!

“Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu?” tanya Aoi dengan muka yang penuh dengan rasa penasaran.

Miyavi hanya tertawa kecil. “Pipimu yang memerah itulah yang menunjukkan segalanya,” dengan iseng, Miyavi mencubi pipi Aoi dan mendapatkan pukulan yang lumayan kencang di bahunya dari Aoi. Aoi pun menggerutu kesal. Ia tidak percaya pipinya memerah saat ia memikirkan Uruha.

“Tapi...” Aoi menundukkan kepalanya. “—Dia laki – laki,” ucapnya dengan sangat pelan, bahkan hanya seperti berbisik.

Miyavi yang sedang meminum jusnya dengan sepontan langsung tersedak mendengar pernyataan Aoi barusan. “Apa?“ ia mendekatkan kupingnya ke Aoi agar ia dapat mendengarkan dengan jelas.

“Dia laki – laki, bodoh!“ ucap Aoi kesal dan ia pun berteriak di telinga Miyavi. Sepontan, Miyavi langsung menjauhkan kupingnya dari Aoi dan menutupnya dengan tangannya. Tapi tiba – tiba Miyavi tertawa terbahak – bahak. Aoi yang sedang malu pun melihatnya dengan tatapan heran.

“Selamat datang di duniaku, adikku...“ ucap Miyavi riang sambil menepuk pundak Aoi pelan dan kembali masuk ke dalam kolam renang.


FANFIC - usual love story, [chapter 9]

Title : usual love story
Author : Kanon Kuroii
Chapter : 9/??
Genre : romance, humor
Pairing : AoixUruha, UruhaxAoi, ToraxAoi (one-sided), more to come
Rating : PG-13
Warning : Manxman, idiot author, hentai Tora!
Disclaimer : I put them in the dungeon. I DON’T OWN THEM!
Comment : fanfic series pertama^^d

Prologue/Chapter 1/Chapter 2/Chapter 3/Chapter 4/Chapter 5/Chapter 6/Chapter 7/Chapter 8





Uruha memandang sekeliling kelas dengan malas. Aoi lagi – lagi tidak datang ke kelas gitar. Ia pun hanya duduk di kursi yang biasanya Aoi duduki. Memandangi seluruh siswa dan siswi sedang sibuk berlatih gitar. Entah mengapa kelas terasa berbeda saat tidak ada Aoi. Ia pun hanya menghelakan nafas dengan pelan.

***
Saga duduk di atas meja. Bass hitamnya dengan manis bertengger di pangkuannya. Ia memakai earphone di telinganya dan mencoba mengikuti betotan bass dari musik yang keluar dari earphonenya sambil sesekali ia menghentakkan kakinya. Ia sangat menikmati saat – saat bermain dengan bassnya dan sangat benci apabila ada yang menganggunya. Bahkan ia tidak segan – segan memukul orang itu.

Saga merasakan ada seseorang yang menarik earphonenya dari telinganya. “HEY!” Saga berteriak kesal.

“Apa?” Tora. Sudah berdiri di seblah Saga sambli memegang earphone di tangan kirinya. Saga yang kesal akhirnya menahan amarahnya dan menatap Tora dengan kesal.

“Ku kira kau ingat kalau kau sudah berjanji untuk menemaniku pergi ke toko CD saat pulang sekolah,” ucap Tora sambil tertawa kacil. Saga pun hanya menaikkan sebelah alisnya dengan bingung.

“Kemana blazermu?” tanya Saga heran.

Tora tertawa saat melihat muka Saga yang kebingungan saat melihatnya hanya mengenakan kemeja putihnya saja. “—Di pinjam,”

***

Aoi terbangun dari tidurnya. Sepertinya ia tidur cukup lama. Ia melihat ke bawah, tampak sekolahan sudah sepi dan kelas – kelas sudah kosong. Sepertinya jam pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi. Akhirnya Aoi pun memutuskan untuk berdiri dan merasakan ada sesuatu yang terjatuh. Sebuah blazer hitam dengan lambang kelas E di lengan kirinya. Aoi pun mengambil blazer tersebut dan menyadari bahwa tadi ia telah tertidur cukup lama. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Berusaha mencari siapa pemilik blazer tersebut. Tapi ia tersadar bahwa blazer itu milik Tora, Tora!—batin Aoi. Aoi pun teringat saat Tora melihatnya menangis tadi siang, dan saat tangan besar Tora mengelus pipinya yang kering oleh air mata. Aoi memegang pipinya perlahan, membayangkan bahwa tangan Tora lah yang mengusapnya. Dan ia pun memejamkan matanya.

Aoi membuka pintu kelasnya perlahan. Ia memutuskan untuk segera pulang. Tapi saat ia membuka kelasnya, sosok siswa berambut coklat keemasan sedang duduk memandang matahari di luar kelas. Ketika siswa tersebut sepertinya menyadari kehadirannya dan menolehkan kepalanya ke arah Aoi. Senyum lebar langsung terpasang di mukanya yang sangat feminim.

“Aoi!” ucapnya semangat.

“Uruha?” Aoi menatap siswa itu dengan tatapan bingung. “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya sambil berjalan ke arah Uruha.

“Aku menunggumu di kelas gitar, tapi kau tidak datang. Dan aku men—Hey! Ada apa dengan bibirmu!?” Uruha terkejut melihat bibir Aoi yang robek.

Aoi memegang lukanya dengan perlahan, “Tidak usah kau pedulikan,” ucapnya.

“’Tidak usah kau perdulikan!?’ Aoi! Itu luka yang cukup serius! Kemari, biar ku obati lukamu!” Uruha menarik tangan Aoi dan memaksanya untuk duduk di kursi.

“Uruha—“

“Just shut up your fucking mouth!” Uruha dengan tidak sengaja membentak Aoi. Aoi pun terkejut dan terdiam mendengar suara Uruha. Baru pertama kali ini ia mendengar Uruha berteriak padanya.

“Sorry, aku hanya ingin membantumu...” Uruha menundukkan kepalanya perlahan. Ia pun mengeluarkan plester berwarna kuning dengan gambar boneka di atasnya. “Err—sepertinya plester ini tidak cocok denganmu ya?” komentar Uruha dengan polos saat membandingkan plester itu dengan muka Aoi.

Aoi melakukan hal yang sangat jarang di lakukannya belakangan ini. Ia tertawa. Uruha mengangkat kepalanya dengan terkejut, tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. Tapi tatapan itu segera sirna dan senyum lebar mewarnai muka Uruha. Ia pun tertawa bersama Aoi.

***

Seluruh murid di kafetaria saling bertukar pandang dengan yang lain. Tidak percaya apa yang sedang mereka lihat. Ruki, Reita dan Kai pun tidak kalah terkejutnya dengan murid yang lain. Mereka bertiga saling bertukar pandang antara satu dengan yang lain seakan tidak percaya. Uruha tersenyum dengan lebar, rasa bangga muncul dari dalam dirinya saat ia berhasil membujuk Aoi untuk makan siang bersama. Berbeda dengan Uruha, tatapan tajam terlihat di muka Aoi saat melihat seluruh mata di kafetaria tertuju padanya. Ia selalu benci menjadi pusat perhatian.

“Teman – teman, ku perkenalkan kepada kalian Shiroyama Yuu! Atau kalian bisa memanggilnya Aoi,” Uruha memperkenalkan Aoi kepada ketiga sahabatnya yang masih terdiam. “Tolong sapa dan sayangilah dia~” ucap Uruha ceria.

“Y—yoroshiku…” ucap Aoi pelan. Bahkan hanya terdengar seperti bergumam. Mukanya tertunduk ke bawah untuk menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. Plester kuning pemberian Uruha kemarin bertengger manis di ujung bibirnya.

“H—hay Aoi! Senang rasanya bertemu denganmu... Mari kita duduk bersama!” ucap Ruki dengan nada yang aneh dan memasang muka yang seolah – olah ceria.

Aoi pun menurut saat Uruha menarik lengannya untuk duduk di kursi sebelahnya. Menatap Ruki, Reita dan Kai secara langsung. Aoi pun hanya terdiam. Ekspresi di mukanya sangat aneh... ia bingung harus memasang ekspresi seperti apa. Ia adalah orang yang paling jarang bersosialisasi di antara keluarganya. Sangat berbeda dengan Miyavi yang selalu membawa teman – temannya pulang ke rumahnya untuk bermain sepak bola atau rugby bersama.

15 menit berikutnya terasa sangat aneh bagi 5 Bintang. Mereka sangat bingung untuk dapat bebicara dengan Aoi. Berbagai pertanyaan telah mereka lontarkan kepada Aoi tapi Aoi hanya menjawabnya dengan ’iya’ ’tidak’ dan ’entahlah’. Meskipun Ruki dan Uruha tetap saling beradu mulut seperti biasanya. Dan Reita tetap makan dengan tenang, tidak begitu suka dengan kehadiran Aoi.

Pintu kafetaria terbuka lebar dan 5 orang siswa berjalan masuk ke dalam kefetaria. Murid dari kelas A langsung menyingkir atau pura – pura sibuk. Sedangkan murid dari kelas E berteriak dengan ceria. 5 Disaster telah datang. Dengan blazer hitamnya yang skiny dan kemeja yang di keluarkan serta dasi merahnya yang menyala, Shou berjalan di barisan paling depan dari 5 Disaster. Disusul oleh Nao dan Hiroto. Dan di barisan paling belakang terdapat Saga dan Tora.

“Disaster datang...“ Ruki mengumumkan kepada 5 Bintang dengan nada yang menyindir. 5 Bintang dan 5 Disaster saling bertukar pandang dengan tajam saat 5 Disaster—terutama Shou—menghampiri meja mereka.

“Lihatlah... 5 Bintang berkumpul jadi satu, sungguh suatu keajaiban dunia. Benar kan Takanori?“ Cibir Shou sambil menatap Aoi dengan tajam. Hiroto tertawa kecil di belakang Shou. Aoi pun membalas tatapannya dengan mata tajamnya.

“Tutup mulutmu Kazamasa. Uruslah urusanmu sendiri...” Ruki berdiri dari kursinya dan menatap Shou dengan dingin.

“Hump.” Shou pun membuang mukanya dan berjalan kembali ke arah mejanya.

Aoi memandang Tora yang ikut pergi bersama Shou. Tora pun menatapnya. Matanya menunjukkan rasa kesal kepada Aoi. Dan Aoi pun memalingkan mukanya ke arah lain.

***

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau adalah anggota 5 Bintang!?” dengan kasar, Tora membanting bahu Aoi ke dinding atap sekolah. Seperti biasa, Aoi selalu duduk di atap sekolah untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Ketika Tora datang dan menarik tangan Aoi dengan kasar dan mendorong Aoi ke dinding.

“A—apa maksudmu!?“ Aoi menatap Tora dengan bingung sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman Tora. Ia tidak mengerti kenapa Tora begitu marah saat melihat dirinya sedang bersama teman – teman Uruha. Yap, teman – teman Uruha. Walaupun Uruha mengatakan bahwa 5 Bintang adalah teman – temannya, ia tidak pernah mengakuinya.

“Kau tidak usah bersikap seolah – olah kau tidak mengerti apa – apa, Aoi. Apa yang kau lakukan dengan anggota Bintang itu!” Tora menggenggam bahu Aoi dengan keras, sehingga Aoi pun memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit itu.

“A-aku—“ sebelum Aoi menyelesaikan kata – katanya, bibirnya sudah terkunci oleh bibir Tora. Pikiran Aoi mendadak langsung hampa. Matanya terbelalak dengan lebar. Tora mencium bibirnya. Badannya mendadak berhenti meronta. Ia hanya mematung di dalam dekapan Tora, berusaha untuk tidak membalas ciuman itu.

Beberapa saat kemudian Tora melepaskan bibirnya dari bibir Aoi. Aoi hanya menatap Tora dengan tatapan tidak percaya. Tora pun menatap Aoi, tapi matap Aoi dengan tatapan nafsu.

Tora pun mendekatkan mukanya ke muka Aoi lagi. Aoi hanya menutup matanya. Ia berharap agar Tora tidak menciumnya lagi. Tapi kali ini Tora tidak mencium bibirnya, ia mencium leher Aoi dengan perlahan. Sambil memegang pipi Aoi dengan lembut sebelum ia melepaskannya. “Mine,” ucap Tora sambil tersenyum menatap Aoi. Dan Tora pun membalikkan badannya dan pergi dari atap sekolah. Meninggalkan Aoi yang masih bersandar di dinding atap sekolah.

FANFIC - usual love story, [chapter 8]

Title : usual love story
Author : Kanon Kuroii
Chapter : 8/??
Genre : romance, humor
Pairing : AoixUruha, ToraxAoi (one-sided), more to come
Rating : R (for this chapter)
Warning : Manxman, idiot author, hentai Tora!
Disclaimer : I put them in the dungeon. I DON’T OWN THEM!
Comment : fanfic series pertama^^d

Prologue/Chapter 1/Chapter 2/Chapter 3/Chapter 4/Chapter 5/Chapter 6/Chapter 7




“T—Tora,“ Aoi mendesah pelan saat Tora membuka bajunya dan mulai menciumi leher Aoi yang berkeringat tersebut. Dengan pelan Tora membuka kancing seragam Aoi dan mulai meraba dada Aoi yang bidang dan tangannya mulai turun untuk membuka ikat pinggang Aoi. Aoi pun menggenggam lengan Tora dengan kencang dan menggigit bibir bawahnya agar desahanya tidak terdengar oleh para murid yang sedang beristirahat di dalam gedung. Tora pun akhirnya berhasil membuka ikat pinggang dan kancing celana Aoi, senyum kemenangan terlukis di bibirnya yang tetap menjilati dan menggigit leher Aoi, dan dengan segera, Tora langsung memasukkan tangannya ke dalam bokser Aoi dan menemukan apa yang di carinya. “Ahhh...“ Aoi yang daritadi berusaha menahan desahannya pun akhirnya tidak dapat menahannya.

Mata Tora terbuka dengan cepat dan langsung terbangun dari tidurnya. Ia memandang sekeliling, dinding yang berwarna abu – abu dan berposter berbagai macam band, laptop dan jam yang menunjukkan pukul 2 siang yang berada di pojokan ruangan, kasur king-sizenya yang berselimut warna hitam. Sudah jelas bahwa ia berada di dalam kamarnya. Tora pun menghelakan nafasnya dengan lega dan menyenderkan badannya ke kepala kasurnya. Ia menyeka keringat di mukanya sambil memikirkan mimpinya barusan.

Hell no! Ada apa denganku!? Kenapa aku memimpikan orang tersebut!? Terlebih lagi— Mimpi macam apa itu!? Aku memang sering bermimpi seperti itu dengan seorang wanita. Tapi tidak dengan sesama jenis seperti Aoi! Ada apa denganku ini!?— Tora membenamkan mukanya di kedua telapak tangannya dan menghelakan nafas.

Tok Tok...

Tora menoleh ke arah pintu kamarnya, “Siapa?”

“Tora Ouji-sama, teman – teman anda ingin bertemu dengan anda,”

“Hay Tora-shi!” Shou melangkahkan kakinya ke dalam kamar Tora dengan semangat. Disusul oleh Saga, Hiroto dan Nao.

“Ada apa denganmu Tora? Mukamu terlihat pucat,” Nao memandang muka Tora dengan khawatir dan memegang kening Tora. “Kau sepertinya tidak panas,”

“Aku tidak apa – apa Nao,” jawab Tora. “Apa yang kalian lakukan disini?”

“Semua ayah kita sedang rapat bersama di ruangan ayahmu, sepertinya mereka bertransaksi dengan seorang pemerintah untuk membunuh perdana mentri Korea,“ ucap Hiroto sambil berjalan ke arah laptop Tora dan memainkannya. Tora pun hanya mengangguk pelan. Entah mengapa pekerjaan ayahnya sama sekali tidak membuatnya bangga. Di dalam hatinya dan seluruh anak 5 Disaster, mereka sangat membenci pekerjaan orang tua mereka yang selalu membunuh orang dan menghidupi keluarga mereka dengan uang haram. Mereka selalu iri dengan kehidupan anak dari kelas A yang memiliki masa depan cerah. Tidak seperti mereka yang memiliki masa depan sebagai pembunuh.

Tora pun bangun dari kasurnya dan berjalan ke kamar mandi.

***

“Terlambat lagi, Takanori-kun?“ Mrs. Yume sudah menatap Ruki yang baru memasuki ruang kelas dengan tenang dengan tatapannya yang tajam. Kai yang sedang menyalin pelajaran yang di tulis di papan tulis pun menoleh ke arah Ruki yang berada di depan pintu.

“Aakh—“ Ruki hanya menggerang dengan pasrah dan berjalan ke arah luar kelas dan berdiri di sebelah pintu kelas.

“Sepertinya kau sudah memahami apa yang harus kau lakukan ketika terlambat, Takanori-kun...“ sindir Mrs. Yume sambil menutup pintu kelasnya.

“Damn!“ umpat Ruki kesal, ia memang paling membenci guru keseniannya tersebut karena hanya guru itu saja lah yang tidak takut dengan namanya sebagai ’5 Bintang’. Ruki pun menyenderkan punggungnya ke dinding luar kelas, tatapannya menatap jendela di seberang koridor. Tiba – tiba mata Ruki terbelalak tidak percaya melihat Yuu, baru saja muncul dari ujung koridor kelas mereka. Terlihat ada luka lebam di ujung bibirnya dan terdapat lingkaran hitam di sebelah matanya yang menunjukan bahwa ia tidak tidur semalaman. Dengan cuek Yuu melewati Ruki yang memandangnya dengan seksama dan masuk ke dalam kelas.

“Yuu-kun!?“ Mrs. Yume menatap Yuu dengan ekspresi yang tidak kalah kagetnya dengan Ruki. “Suatu kejadian yang jarang sekali terjadi. Kenapa kau terlambat!? Dan ada apa dengan bibirmu!?“ tapi Yuu menghiraukan pertanyaan dari Mrs. Yume dan hanya menunduk ke bawah.

“Maafkan saya Yuu-kun, tapi kau harus berdiri di koridor kelas seperti Takanori-kun.“ Ucap Mrs. Yume. Yuu pun hanya mengangguk pelan dan berjalan keluar kelas. Takanori kembali menatapnya dengan tatapan aneh, tapi ia menghiraukannya dan berdiri di sebelahnya.

Hening...

Ruki kembali menatap ke arah jendela. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dari orang yang berdiri di sebelahnya. Selama ia bersekolah di St. Angelo, belum pernah sekalipun ia berbicara dengan seorang Shiroyama.

“Err—apa yang membuatmu terlambat, Aoi-kun?” Ruki mencoba memecahkan kesunyian.

“Tidak ada yang mengizinkanmu memanggilku dengan sebutan itu, Matsumoto.” jawabnya cepat.

“M—maafkan aku, Shiroyama.” Dengan itu pun Ruki menghentikan niatnya untuk berbicara dengan Yuu.

***

“Dia apa!?” Uruha kaget bukan main saat mendengar cerita Ruki tentang tadi pagi. Roti yang di makannya berlompatan keluar dari mulutnya.

“Bibirnya. Robek. Kouyou...” Ruki mengucapkannya sepatah – sepatah dan dengan penuh penekanan. Saat ini seluruh anggota 5 Bintang—kecuali Aoi—sedang berkumpul di kafetaria sekolah mereka saat istirahat siang.

“Aku tidak heran kalau kau terkejut, Uruha...” komentar Kai. “...Aku pun tidak kalah terkejutnya denganmu. Yuu terlihat berantakan pagi ini, Mrs. Yume juga terlihat sangat terkejut.“

“Tapi kenapa ia terlihat seperti berantakan sekali?“ tanya Ruki.

“Mungkin sesuatu terjadi saat ia akan berangkat sekolah,“ terka Kai.

“Aku akan bertanya padanya saat kelas gitar nanti,“ Uruha memakan makanannya. Tapi di dalam hatinya ia sedang memikirkan Aoi. Hey! Kenapa aku memikirkannya!? Apa aku khawatir padanya!?—batin Uruha.

***

Aoi menyandarkan punggungnya ke pagar atap sekolah. Lagi – lagi ia bolos kelas gitarnya. Kepalanya mengadah ke langit seperti biasa. Banyak yang terjadi sejak ia mengantarkan Uruha ke rumah Reita.

Aoi memarkirkan mobilnya di depan pintu rumahnya dan menyuruh pelayannya untuk memarkirkan mobilnya ke garasi.

“Onii-saaaan!” Kanon berlari menyambut Aoi yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan semangat. “Kapan kita akan belajar gitar? Aku sudah tidak sabar! Kau harus mengajariku lagu Luna Sea! Boleh aku pinjam gitarmu?” Kanon membombardir Aoi dengan pertanyaan.

“Sabar Kanon, aku pasti akan mengajarimu...” Aoi tertawa kecil dan mengusap kepala adiknya dengan sayang. Di antara seluruh keluarganya, hanya Kanon yang benar – benar ia sayang. Karena hanya Kanon lah yang benar – benar menunjukkan perhatian kepadanya.


“Uuuung~ kenapa tidak mau bunyi?” dumal Kanon kesal. Aoi pun hanya tersenyum kecil melihat usaha adiknya. “Sepertinya aku memang hanya bisa bermain piano,” ucapnya pasrah.

“Berusahalah Kanon, aku yakin kamu pasti bisa...” ucap Aoi memberikan semangat.

Tapi tiba – tiba pintu kamar Aoi terbuka dengan kencang dan suaranya menggema di seluruh kamar Aoi. Tidak yang seperti Aoi bayangkan, Mr. Shiroyama ternyata pulang lebih awal. Dan ia mendengar dan melihat Kanon, anak yang menjadi penerus orkestranya sedang belajar bermain gitar.

“A—ayah...” Kanon menjerit pelan. Dengan spontan ia melepas gitar Aoi dan terjatuh di atas kasur. Sedangkan Aoi hanya menatap ayahnya, mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sebuah kepalan mendarat dengan mulus di ujung bibir Aoi. Membuatnya terjatuh ke lantai dengan benturan yang cukup keras. Kanon menjerit pelan melihat Aoi terjatuh. Air mata mulai turun dari ujung matanya.

“Sudah ku bilang berkali – kali agar jangan mengajari Kanon bermain alat musik sampah seperti itu! Aku tidak ingin penerusku menjadi rusak seperti kamu dan kakakmu!“ bentak Mr. Shiroyama kepada Aoi. Dan dengan kasar, Mr. Shiroyama menarik tangan Kanon dan membawanya keluar dari kamar Aoi. Aoi pun hanya meringkuk di lantai sambil memegang ujung bibirnya yang robek dan berdarah. Ia tidak membiarkan air matanya turun atau itu berarti kalau ia telah kalah.


Aoi tertegun dalam lamunannya. Air mata turun dari matanya tanpa ia sadari. Tapi ia membiarkannya mengalir, membiarkan dirinya melepaskan amarah yang selama ini selalu di tahannya. Karena ia yakin, kalau ia menunjukkan air mata ini di depan ayahnya, maka artinya ia telah kalah dan menyerah.

“Kau menangis?” Aoi terbuyar dari lamunannya dan menatap orang yang telah berdiri di depannya.

“Tora...” ucapnya pelan. Ia menyeka air matanya dengan lengannya.

“Ada apa?” Tora berlutut di depan Aoi dan menatapnya dengan khawatir. Aoi hanya menundukkan kepalanya, ia belum yakin apakah ia akan menceritakan semua kejadian yang di alaminya kepada orang lain. Dan ia pun hanya menggeleng pelan.

Mata Aoi terbelalak ketika ia merasakan sentuhan di pipinya. Ia mengangkat kepalanya perlahan dan melihat Tora sedang memegang pipinya dan dengan perlahan menghapus air matanya dengan jari tangannya. Aoi hanya diam melihat reaksi yang dilakukan oleh Tora. Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, bahkan oleh ibunya sendiri. Perasaan yang nyaman dan aman. Aoi pun menutup matanya dan berusaha menikmati perhatian yang Tora berikan kepadanya.

Tora pun menatap muka Aoi dengan seksama. Ia sendiri tidak percaya dengan apa yang ia lakukan. Ia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Tapi entah mengapa saat melihat air mata turun dari mata Aoi, ia merasakan penderitaan yang selama ini tersimpan di dalam diri Aoi. Dan entah mengapa ia sangat ingin menghilangkan penderitaan itu dari Aoi. Ia ingin melihat Aoi bahagia.

Tora menatap muka Aoi dan menyadari kalau Aoi sudah tertidur. Ia tersenyum kecil dan duduk di sebelah Aoi. Dengan pelan ia menyenderkan kepala Aoi ke lehernya. Tora memandang Aoi dengan sekasama. Nafas Aoi yang hangat menggelitik lehernya, mulutnya yang empuk terbuka sedikit dan rambut Aoi yang pendek menempel dengan pipinya. Ia melihat perut Aoi naik dan turun dengan pelan. Sepertinya Aoi tertidur dengan nyenyak.

Senyum kecil terlukis di bibir Tora saat ia melihat Aoi yang sedang tertidur. Terlihat sangat polos seperti anak kecil yang sama sekali tidak ada masalah dalam kehidupannya dan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Tora pun mengusap pipi Aoi dengan pelan dan mendekatkan kepalanya ke muka Aoi. Dengan perlahan, ia pun menyatukan bibirnya dengan bibir Aoi.

Fanfic - he stole my life *part 2*

Title : he stole my life
Author : Kanon Kuroii
Chapter : 2/??
Genre : romance, humor
Pairing : RukiXTakeru
Rating : NC-17
Warning : Manxman, kissing, foreplay? idiot author
Disclaimer : I put them in the dungeon. I DON’T OWN THEM!
Comment : buat di sela sela bikin Usual Love Story

part 1




Semua anggota SuG pun akhirnya memasuki studio pribadi mereka. Mereka pun meletakan semua peralatanya dengan semangat. Setelah mereka semua berkerja keras, akhirnya mereka mendapatkan kesempatan untuk menitih karir mereka. Dengan semangat, Takeru langsung memberikan ornamen dan hiasan yang mencirikhaskan SuG. Ia mebawa segala bentuk poster dan gantungan yang berwarna - warni, dengan semangat ia memasangnya di ruang latihan mereka.

"Takeru, apa-yang-kau-lakukan!?" Mitsuru menarik kerah Takeru.

"Kau jangan marah seperti itu Mi-chan~ ini agar kita serasa di rumah..." dumal Takeru kesal, ia pun memanyunkan bibirnya.

"Oh ya? Rumahku tidak terlihat seperti taman kanak - kanak!" bentak Mitsuru kesal.

"Kalau begitu agar terlihat seperti rumahku!" ledek Takeru sambil tertawa lebar.

"Kau tahu? Menurutku ide baka-Takeru bagus juga," ucap Masato yang duduk di sofa sambil mengamati studio bandnya. "Agar terlihat seperti ciri khas kita sebagai band oshare."

"AHA! Aku tahu kalau aku memang jenius! I love you Masa-chi!" Takeru pun memeluk Masato dengan kencang.

"...Tidak...dapat, bernafas..." pekik Masato lemas. Sedangkan Yuji hanya melihat ke-bodohan ketiga band matenya sambil menyetem gitarnya.

"Hey hey! Kalian tahu!?" Chiyu memasuki ruang latihan dengan semangat, "...Studio kita ternyata satu lantai dengan studio the GazettE! Itu berarti kita bisa melihat mereka latihan, dan mereka dapat melihat kita latihan!"

JLEGERR!

Tiba - tiba saja Takeru mematung di tempat, mendengar kata - kata Chiyu barusan membuat perutnya sakit bukan kepalang. The GazettE!? Satu lantai!? Kalian pasti bercandaaaaaaaaaaaaa!! - teriak Takeru dalam hati.

"Hai kalian semua!" sapa seseorang dari pintu ruang latihan SuG.

"Ah! Aoi-senpai! Ohayo~" sapa Takeru semangat. Aoi berdiri di pintu studio SuG. Rokok dengan manis bertengger di bibirnya.

"Kalian benar - benar mendekor studio kalian menjadi ciri khas kalian ya! Menarik..." puji Aoi.

"Ciri khas dari Takeru sebenarnya..." dumel Mitsuru kesal. Takeru pun senyum penuh kebanggaan.

"Oh ya!? Pantas studio kalian terlihat warna - warni! Terlihat sangat 'Takeru' sekali!" komentar Ruki yang tiba - tiba muncul dari belakang punggung Aoi.

Takeru mendadak menjadi diam seribu bahasa lagi setelah melihat orang yang paling-tidak-ingin-di-temuinya. Keringat dingin mulai membasahi badannya.

"Ada apa? Takeru?" Ruki melihat ke arah Takeru, senyum licik terlihat di bibirnya.

"Err... Tidak ada apa - apa, Ruki-san. Sungguh..." jawab Takeru gugup.

"Aww, jangan begitu formal kepadaku... panggil saja aku Ruki, ok?"

"Ok," jawab Takeru singkat.

"Ne Ruki, sebaiknya kita kembali ke studio kita. Kau tahu, Kai hanya memberikan kita istirahat selama sepuluh menit... Lagipula mereka semua akan latihan," Aoi berkata sambil menghisap rokoknya dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan.

"Kau tahu Aoi, sepertinya aku punya ide yang lebih baik..." Ruki tersenyum ke arah Aoi. Membuat Aoi menaikkan sebelah alisnya dan bingung. "...Ayo kita lihat latihan pertama mereka!"

"APA!?" teriak Aoi dan Takeru secara bersamaan.

"Kau tahu apa yang akan Kai lakukan kalau kita sampai tidak kembali ke ruang latihan tiga menit lagi kan!? Mungkin dia akan memenggal kepala kita dan memajangnya di atas perapian rumahnya!" Aoi panik bukan kepalang, ia menoleh ke ruang latihan mereka yang berada di pojok koridor. Sepertinya Reita dan Uruha sudah kembai ke sana.

"Benar, benar..." bisik Takeru pelan, ia benar - benar tidak ingin Ruki melihat latihan mereka saat ini. Jadi ia hanya berdoa kalau Aoi mau menyeret vokalisnya tercinta kembali masuk ke dalam ruang latihan.

"Ayolah Aoi~ apa salahnya apabila kita memperhatikan junior kita sebentar... Lagipula aku sedang malas latihan, kita sudah latihan selama tiga jam dan Kai hanya memberikan istirahat sepuluh menit!?" rengek Ruki kepada Aoi.

"Kau tahu Ruki, sepertinya idemu bagus juga. Aku juga sedang bosan latihan hari ini..." Aoi pun tersenyum lebar.

APA!? Ku kira Aoi adalah penyelamatku! Ternyata sama saja! I hate you Aooooii! - Batin Takeru kesal.

"Kami berdua boleh melihat kalian latihan?" tanya Aoi.

"Tentu saja boleh! Pintu studio kami selalu terbuka untuk para senpai!" ucap Masato semangat.

Masato kau idiot! Tunggu pembalasanku nanti! - sumpah Takeru kepada Masato.

Dengan semangat Ruki dan Aoi langsung menutup ruang latihan SuG dengan rapat. Agar Kai tidak mengetahui mereka kalau mereka berada di dalamnya.

“Oke! Aku siap menontonnya!“ ucap Ruki semangat sambil duduk di sofa sebelah pintu studio. Aoi pun sudah duduk rapi di sebelahnya.

Akhirnya dengan penuh rasa terpaksa, Takeru pun berusaha menghiraukan keberadaan Ruki. Mitsuru pun langsung menggebuk drum-nya dan memulai latihan tersebut. Mereka membawakan single pertama mereka, I Scream Party. Dengan semangat Takeru menyanyikan lirik demi lirik. Berusaha membawakannya se-ceria mungkin. Sampai akhirnya tiba di bagian akhir lagu,

“…Oshiete yo yume no na— AAAARGH!“ tiba – tiba saja Takeru berteriak dan menghentikan nyanyiannya. Sontak seluruh anggota SuG serta Ruki dan Aoi pun terkejut.

“Ada apa Takeru?” Yuji menghampiri Takeru.

“Aku selalu tidak pernah bisa mencapai nada itu dengan tepat!” Takeru merentangkan tangannya di udara. Ia sebenarnya tidak begitu ingin menjadi vokalis, karena ia tidak begitu suka dengan menyanyi. Ia lebih memilih membawakan alat musik seperti gitar atau bass daripada menjadi vokalis.

“Ayolah~ kau pasti bisa...” Masato menepuk – nepuk pundak Takeru. “Ta-chan yang ku kenal selalu semangat!”

“Tapi aku selalu gagal mencapai nada tersebut~” Takeru memanyunkan bibir mungilnya.

Tiba – tiba saja Ruki tersenyum lebar dan menatap Takeru dengan penuh makna. Ia segara bangkit dari sofa tersebut dan berjalan ke arah Takeru. Takeru pun sepertinya tidak menyadari Ruki mendekat kepadanya, dengan jahil Ruki pun melingkarkan tangannya ke pinggang Takeru. “Ne, Takeru...”

Takeru yang sedang berdebat dengan Yuji sontak kaget dan berusaha melepaskan tangan Ruki dari pinggangnya. Tapi Ruki memegang pinggang Takeru dengan kuat, sehingga Takeru tidak bisa lepas darinya.

“R—Ruki senpai!?“ Takeru panik bukan kepalang. Pipi mungilnya berubah menjadi merah seperti tomat yang baru saja matang.

“Kau tahu Takeru, kau bisa mencapai nada tersebut... yang kau perlukan adalah sedikit latihan,” bisik Ruki tepat di telinga Takeru. Membuat Takeru menggeliat di dalam pelukan Ruki. Takeru menggigit bibir bawahnya karena panik. Dan seluruh badannya menjadi keringat dingin. “—Dan aku dapat mengajarimu,“

“A—apa!?“ Takeru panik dan menatap muka Ruki yang tersenyum sinis. “A—aku sepertinya dapat latihan sendiri,“ Takeru berusaha menolak tawaran Ruki karena ia tahu apabila ia hanya berdua dengan Ruki dalam satu ruangan, maka pasti akan terjadi sesuatu.

“Ne~ kau tidak usah malu seperti itu, sebagai senpai yang baik, aku ingin mengajarkan kohai kesayanganku cara bernyanyi yang benar...“ Ruki meronggoh kantong celananya dan mengeluarkan ponsel hitamnya. “Beritahu aku nomor ponselmu, dan aku akan memberitahukan alamat apartemenku.“

“A—apartemenmu!?“

“Ya. Atau kau mau ku ajari di kamar hotel? Aku tahu hotel yang bagus untuk kita berdua,“ bisik Ruki di telinga Takeru agar anak SuG yang lain tidak dapat mendengar mereka.

“A—apartemen saja sudah cukup,“ jawab Takeru pasrah. Akhirnya ia mengambil ponsel Ruki dan memasukkan nomor ponselnya. Setelah selesai, ia pun mengembalikannya ke Ruki.

“Yay! Nanti akan ku message ke nomormu,” ucap Ruki semangat.

“O—oi Ruki!” Aoi memanggil Ruki, mukanya berubah menjadi panik dan pucat. ”Uruha baru saja memberiku message, dan ia berkata kalau Kai sedang mengamuk di dalam studio karena kita tidak datang... DAN DIA SEDANG MENUJU KE SINI!” Aoi menjerit pelan saat melihat Kai dari balik jendela sedang berjalan di koridor dan menuju ke studio SuG.

“APAAA!!” Ruki teriak bukan kepalang. Membuat Kai marah sama saja dengan menyerahkan diri ke neraka. “Oh shit! Apa yang harus kita—“

Belum selesai Ruki menyelesaikan kata – katanya, tiba – tiba pintu studio SuG terbuka lebar. Dan sosok Kai berdiri di depannya.

“Konnichiwa kouhai, aku hanya mampir untuk mencari vokalis dan gitaris bandku tercinta. Apa kalian melihatnya?” Kai mengeluarkan innocent-beam-nya kepada anak SuG.

Anak SuG hanya terdiam di tempat dan menggeleng pelan.




“Ruki, Aoi. Aku tahu kalian ada di balik drum set Mitsuru. Segera keluar atau kalian akan siap merapihkan barang – barang kalian dan meninggalkan PSC untuk selamanya...“ ancam Kai sambil tersenyum, tapi aura penuh kenistaan langsung terpancar di seluruh studio, membuat anak SuG mematung semua. Dengan muka pucat dan keringatan, Ruki dan Aoi muncul dari balik drum Mitsuru.

“Hehe, kami sedang main petak umpet. Ne Aoi?” Ruki menepuk – nepuk pundak Aoi dengan aneh.

“Yep. Apa yang di katakan midget itu benar,” bela Aoi.



Hening…



“Ruki. Aoi. Latihan. Sekarang.”

Dengan kecepatan cahaya, Ruki dan Aoi langsung melesat keluar dari studio SuG dan berlari ke arah studio mereka yang berada di seberang koridor. Anak – anak SuG tetap terdiam di tempat setelah melihat ‘another side’ dari Kai, sang drummer yang di juluki sebagai the-cuttest-boy.

“By the way, nice studio…” ucap Kai ramah sebelum menutup pintu studio dan meninggalkan anak SuG sendirian lagi.

“Haaaaaah~” dengan spontan, semua anak SuG duduk dan terkapar di lantai. Masi tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Aku bersumpah tidak akan mencari gara – gara dengan Kai senpai,” ucap Chiyu sambil membenamkan mukanya ke bantalan sofa.

Bzzz bzzz…

Ponsel Takeru bergetar. Ia pun merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya tersebut dan segera membuka message yang masuk.

From: +81xxxxxxxxxx

Hay Take-chan!
Apartemenku di Green Hill no.206,
Ku tunggu kau jam 8 malam… Jya!

-Ruki.


Wajah Takeru pun terlihat semakin pucat dari sebelumnya.
=====

wooow~ apa yang akan di lakukan oleh Ruki?? saksikan dalam episode selanjutnyaaa!! XDD

FANFIC - usual love story, [chapter 7]

Title : usual love story
Author : Kanon Kuroii
Chapter : 7/??
Genre : romance, humor
Pairing : AoixUruha, ToraxAoi (one-sided), more to come
Rating : PG-13
Warning : Manxman, idiot author
Disclaimer : I put them in the dungeon. I DON’T OWN THEM!
Comment : fanfic series pertama^^d

Prologue/Chapter 1/Chapter 2/Chapter 3/Chapter 4/Chapter 5/Chapter 6




Uruha keluar dari toko itu beberapa menit kemudian. Ia melihat ke arah taman yang berada di depan toko itu dan menemukan Aoi, Takeru dan Masato sedang duduk di rumput taman tersebut. Mereka terlihat saling bercanda. Takeru yang secara tidak sengaja menoleh ke arah Uruha pun tersenyum kepada Uruha dan memberikan isyarat untuk menghampiri mereka. Dan Uruha pun menghampiri mereka.

“Uru! Kau mau es krim?” tanya Takeru yang langsung menghampiri Uruha ketika Uruha melangkahkan kaki ke dalam taman tersebut.

“Err—boleh, aku suka es krim...“ jawab Uruha.

“Kau dengar itu Aou!“ Takeru berteriak ke arah Aoi yang sedang duduk di sebelah Masato sambil memainkan gitarnya. Aoi pun menolehkan kepalanya ke arah Takeru dan Uruha. “Uruha juga mau es krim! Jadi kau harus mentraktir kami es krim!“ rengek Takeru.

Akhirnya Aoi pun menyerah dan berdiri dari rumput tersebut. “Baiklah... Mommy—“ ucapnya sambil mengeluarkan dompetnya dan berjalan ke arah stand es krim.

“YEEEY!“ dengan semangat Takeru langsung mengangkat tangannya ke udara dan melompat kegirangan. “Ayo Uru! Kita di traktir Aou!“ Takeru pun menarik tangan Uruha dan membawanya ke tempat stand es krim.

“Irashai masen,” penjaga stand tersebut menyambut Aoi, Takeru dan Uruha dengan ramah.

“Aku mau chocholate venom miracle!” pesan Takeru dengan semangat. Uruha pun hanya tersenyum kecil melihat tingkah Takeru yang seperti anak berumur 6 tahun yang merengek es krim kepada ayahnya.

“Kau?” tiba – tiba saja Aoi membalikkan badanya ke arah Uruha. Membuat Uruha terbuyar dari lamunannya.

“Eh? E—vanilla chocho cream,” Uruha asal mengucapkan nama es krim yang tertera di menu.

Akhirnya setelah mereka mendapatkan es krim, mereka pun kembali menuju tempat dimana Masato telah menanti mereka. Ia memainkan gitar Aoi yang di tinggal oleh Aoi tadi.

“Senang setelah mendapatkan pencuci mulut, Mommy-chan?” ledek Masato.

“Shut up Ma-chi! Aku ingin menikmati masa – masa berdua dengan es krim ini!” protes Takeru kesal dan mulai melahap es krimnya sendirian. Masato pun hanya tertawa.

“Masato, aku mau pulang. Kanon pasti sudah menungguku di rumah.“ Aoi pun mengambil gitarnya dan bersiap untuk pulang.

“EEEEH!? Sudah mau pulaaang~?“ Takeru yang sedang asik dengan es krimnya pun langsung berhenti menjilatinya dan berjalan ke arah Aoi. “Tapi kan kita belum bermain hari ini~“

“Aku harus pulang, Kanon sudah menungguku di rumah. Aku berjanji untuk mengajarinya bermain gitar hari ini...“

“Ouh, okay— titip salamku untuk Kanon-chan! Mommy rindu padanya!“ ucap Takeru akhirnya. Aoi pun hanya menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan kembali ke arah mobilnya yang di parkir di dekat toko milik Takeru. Ketika ia membalikkan badannya dan berjalan ke arah kolam.

“Kau tidak pulang?” Uruha yang sedang asik menyantap es krimnya sambil memandangi bebek yang sedang berenang di kolam taman pun sontak kaget dan menatap muka Aoi.

“EH!? E—ya, aku lupa kalau aku janji ke rumah Reita sekarang.” Jawab Uruha gagap dan berdiri. Aoi hanya mengangguk dan kembali berjalan ke arah mobilnya ketika ia di kejutkan oleh suara Uruha yang berat dan melengking.

“BAN MOBILKU BOCOOOORR!!“ teriak Uruha saat melihat ban mobil Alpard ungunya yang kempes. Es krim yang daritadi di pegangnya jatuh dengan tidak sengaja dan mengotori kaosnya. “AAARGH! Kaos barukuuu!!“

Aoi pun yang sudah berniat untuk pergi pulang akhirnya mengurungkan niatnya dan berjalan ke arah mobil Uruha, “Ada apa?“

“Mobil Alpardku tercinta sedang terluka! Lihat! Bannya bocor!” Uruha menunjuk ban mobilnya yang bocor. “Dan lihat ini! Kaos Luna Sea baruku terkena tumpahan es krim itu! Sekarang kotooor~ aku tidak akan bisa ke tempat Reita...“ dengan lemas Uruha langsung duduk di pinggir jalan dan meratapi nasipnya. Aoi yang daritadi diam saja akhirnya menarik tangan Uruha dan membawanya kembali ke dalam toko Takeru.

“A—Aoi! Kenapa kita kembali!?“ Uruha terlihat bingung. Dan lagi – lagi tangannya di genggam Aoi dengan erat.

“Bajumu kotor, kau harus ganti kaosmu itu dengan yang baru.“ Ucap Aoi santai sambil membuka pintu toko itu.

“Aoi? Kau sudah kembali? Mana Takeru dan Masato?” tanya Mitsuru bingung.

“Pilihlah kaos yang kau suka, biar aku yang bayar.” Ucapnya santai sambil kembali duduk di sofa yang terletak di belakang kasir. Uruha pun menggerutu, apa – apaan itu!? Aku ini orang kaya! Aku mampu membeli kaos sendiri!— gerutu Uruha.

“Aku mampu membeli kaos ini dengan uangku sendiri tahu,” ucapnya sebal.

***

Aoi dan Uruha akhirnya keluar dari toko tersebut. Lagi – lagi Aoi menggenggam tangannya dan membawanya ke arah mobilnya.

“Kenapa aku harus naik mobilmu?” tanya Uruha pedas. Ia masih sedikit kesal dengan sikap Aoi yang sombong di toko tadi.

“Naik saja, aku akan mengantarkanmu ke tempat Reita.”

“Lalu mobilku bagaimana?“

Dengan malas Aoi mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu dengan cepat. “Anak – anak SCREAM PARTY akan mengurusnya,“ jawabnya datar.

Akhirnya dengan pasrah Uruha pun naik ke kursi penumpang di sebelah Aoi. Setelah memastikan Uruha menggunakan sabuk pengamannya, Aoi pun menjalankan mobilnya ke arah rumah Reita.




to be continue...

FANFIC - usual love story, [chapter 6]

Title : usual love story
Author : Kanon Kuroii
Chapter : 6/??
Genre : romance, humor
Pairing : AoixUruha, ToraxAoi (one-sided), more to come
Rating : PG-13
Warning : Manxman, idiot author
Disclaimer : I put them in the dungeon. I DON’T OWN THEM!
Comment : fanfic series pertama^^d

Prologue/Chapter 1/Chapter 2/Chapter 3/Chapter 4/Chapter 5




Uruha memandang pemandangan kota dari balik jendela mobilnya. Ia sedang dalam perjalanan ke rumah Reita untuk menghabisi hari Minggunya yang membosankan ketika ia melihat seseorang berambut hitam yang ia kenal sedang memasuki suatu toko butik di pinggir jalan.

“Aoi...”

Uruha pun turun dari mobil dan berjalan menuju toko baju tersebut. Dari luar, toko itu terlihat seperti toko baju perempuan yang penuh dengan warna warni dengan tulisan ‘SCREAM PARTY’ di tengah toko tersebut. Membuat Uruha bingung dan berpikir apakah benar orang seperti Aoi memasuki toko seperti ini? Atau apakah pengelihatannya yang salah. Akhirnya Uruha pun memasuki toko baju tersebut.

“IRASHAI MASEEEEN!!” Uruha di sambut oleh pria—kira – kira seperti itulah yang Uruha liat—yang mengenakan baju berwarna pink terang dan celana hijau menyala serta berbagai macam aksesoris yang melekat di badannya. “Selamat datang ke SCREAM PARTY! Tempat anda untuk mengeksplorasikan warna anda! Silakan melihat – lihaaaat~” sapa pria tersebut dengan semangat.

Uruha pun akhirnya memutuskan untuk berkeliling toko tersebut untuk mencari Aoi. Dan orang yang di carinya pun ternyata berada di sana. Aoi. Sedang duduk di sofa di belakang kasir sambil menyalakan rokoknya, gitar hitamnya bertengger manis di sebelahnya. Ia mengenakan kaos hitam bertuliskan ‘My Habbit’ di tengahnya dan mengenakan celana skiny berwarna hitam. Dan yang paling membuat Uruha terkejut adalah prieching yang berada di pinggir bibirnya. Aoi tidak pernah menggunakan benda itu saat di sekolah.

Aoi yang sedang asik menghisap rokoknya tiba – tiba mengeluarkan asap rokoknya dengan cepat saat melihat sosok pria berambut coklat keemasan tersebut.

“U—Uruha!?” matanya terbelalak.

“Ah, Aoi! Tak ku sangka bertemu di tempat seperti ini!” sapa Uruha ramah dengan nada yang seolah – olah ikut terkejut melihat Aoi. Aoi tidak membalas sapaan Uruha, ia terlalu sibuk melihat kehadiran Uruha di tempat yang paling ia-tidak-ingin-beritahu-kepada-orang-lain.

“Aouu my lovely!” seseorang tiba – tiba berlari ke arah Aoi dan meloncat ke atas sofa dimana Aoi duduk. Dengan santainya memeluk Aoi dan mencium pipinya. “Kenapa kau tidak memberitahuku dulu kalau kau mau kemari!?” ucap orang tersebut ceria.

Uruha hanya terdiam melihat adegan tersebut. Jika ia sedang minum saat ini, pasti minuman itu sudah muncrat dari mulutnya. Aoi yang ia kenal dengan anti-socialnya tiba – tiba saja di peluk dan di cium oleh orang yang seperti anak – anak. Dengan rambut pirangnya yang berhighlight pink, baju yang warna warni seperti lollipop dan sepatu yang berwarna sama. Entah mengapa ia merasa sedikit cemburu.

“T—Takeru,” Aoi berusaha melepaskan tangan Takeru dari pundaknya.

“Tidak apa – apa Aou~ hari ini tidak ada pelanggan yang datang! Mommy kangen padamu~” ucapnya sambil menyenderkan kepalanya di pundak Aoi.

“Sebaiknya kau pikirkan lagi kata – katamu sebelum kau berbicara, baka.” Aoi mengarahkan matanya ke arah Uruha untuk memberikan isyarat kepada Takeru. Takeru pun mengikuti arah mata Aoi dan melihat sosok Uruha sedang menatap mereka berdua dalam diam.

“Aaaaah! Gomen! Aku tidak tahu kalau ada pelanggan masuk!“ Takeru pun panik dan segera melepaskan tangannya dari Aoi dan berjalan ke arah Uruha. “Maafkan ke tidak sopanan saya tuan, ada yang bisa saya bantu!? Oh, selamat datang di SCREAM PARTY.“ Takeru segera membungkukkan badannya dalam – dalam ke arah Uruha.

“Ti—tidak apa – apa sungguh,” Uruha membalas bungkukkan Takeru.

Tiba – tiba saja Aoi berdiri dari sofa dan mengambil gitarnya, “Sepertinya lebih baik aku pulang, jya Takeru...” Aoi melambaikan tangannya ke arah Takeru dan siap berjalan ke luar toko tersebut.

“A—Aoi, matte~” Uruha berusaha mengejar Aoi ketika ia di halangi oleh Takeru.

“Kau kenal Aou?” tanyanya penasaran.

“I—iya, dia temanku di sekolah...” jawab Uruha gugup.

“APA!?” tiba – tiba saja mata Takeru terbelalak. “Aou! Jangan beraninya kau pergi!” Takeru pun menarik tangan Aoi dan menahannya di tempat. “Yuji! Tutup pintu toko ini! Mitsuru! Tutup jendela ruangan ini! Masato, bantu aku tahan Aou! Kita punya anak nakal yang harus di introgasi!” Takeru pun memerintah semua teman – temannya.

Uruha pun terkejut melihat sikap berlebihan yang di lakukan oleh Takeru. Dalam sekejap, toko yang tadinya berwarna warni tiba – tiba saja menjadi gelap. Membuat Uruha menelan ludahnya pelan – pelan. Apa yang ku lakukan? Apa aku telah melakukan hal yang salah!?— pikir Uruha.

“Takeru, hentikan lelucon ini...” ucap Aoi kesal kepada Takeru.

“Tidak Aou! Kau mempunyai teman selain kami dan kau tidak memperkenalkannya kami!? Teman macam apa kau!?” Masato memegang lengan Aoi dengan kencang.

Takeru melihat Uruha dalam – dalam, “Kau benar teman Aou?“ dan Uruha hanya menganggukan kepalanya pelan dengan bingung.

“OH MY GOOOSH!!! Aou anakku yang kita cintai ini berhasil memiliki teman di sekolahnyaaaa! Mommy bahagia Aou, MOMMY BAHAGIAAAAAA!!“ Takeru memeluk Aoi dengan kencang dan menghiraukan Aoi yang sedang sibuk melepaskan dirinya dari pelukan maut Takeru. “Aaah~ aku menangis bahagia,“ ucap Takeru sambil menyeka air matanya dengan kaos Aoi.

“Takeru, bisakah kau menghentikan perbuatanmu itu? Sangat mengganggu,“ Aoi menghelakan nafasnya dengan kesal. Ia selalu saja di perlakukan seperti anak kecil oleh Takeru. Dan Takeru selalu menganggap bahwa dirinya adalah Mommy dari Aoi.

“Maaf. Tapi, kita harus merayakan hari bersejarah ini! Ayo, mommy akan membelikanmu es krim strawberry! Ayo Masato!“ dengan semangat Takeru dan Masato langsung menarik Aoi ke luar dari toko itu dan menghilang dari pandangan Uruha.

Hening...

“Err... apakah ada seseorang yang bisa menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi?“ Uruha menoleh kepada empat orang yang tersisa di dalam ruangan tersebut.

“Hem~ maafkan kami, kau pasti bingung tentang apa yang terjadi—“ ucap Yuji, “—Kami adalah teman – teman Aoi, yah... walaupun entah apakah Aoi menganggap kami adalah temannya.” Yuji pun menggaruk kepalanya dengan canggung. “Namaku Yuji, yang berdiri di sana adalah Mitsuru dan Chiyu, dan yang ikut pergi dengan Aoi adalah Masato. Sedangkan si orang-yang-sok-Mommy itu adalah Takeru... namamu?”

“U—Uruha, just call me Uruha.” Uruha pun membungkuk. “Hemm… aku tidak pernah menyangka kalau Aoi mempunyai teman yang—err… sangat berbeda dari kepribadiannya,” Uruha menatap Yuji dengan bingung.

“Itu adalah cerita yang sangat panjang, akan ku ceriatakan kepadamu di belakang… mari—“ Yuji memberikan isyarat kepada Uruha agar ia mengikutinya ke belakang.

Di belakang toko tersebut ada sebuah ruangan kecil yang berisi meja dan beberapa kursi serta sofa di dalamnya. Di meja tersebut berserakan puntung rokok dan kartu remi. Sepertinya ini adalah tempat untuk mereka beristirahat.

“Maaf sedikit berantakan, silakan duduk…” Yuji mempersilakan Uruha duduk di salah satu kursi di ruangan tersebut dan Uruha pun mengikutinya. “—Rokok?“

“Ti—tidak, aku tidak merokok...“ tolak Uruha dengan sopan.

Yuji hanya tertawa kecil mendengar perkataan Uruha barusan. “Kau adalah anak yang cukup alim di antara anak seumuranmu,“ nada suaranya seperti mengejek Uruha. Tapi ia berusaha untuk tidak marah, karena apabila ia marah skarang. Yuji pasti tidak akan menceritakan tentang Aoi dan hanya akan menendangnya keluar dari toko.

“Terima kasih atas sindiranmu barusan, aku sungguh tersanjung—“ cibir Uruha kesal.

“Hmpf. Tidak perlu marah seperti itu ‘kay? Aku hanya bercanda...” Yuji pun duduk di hadapan Uruha dan menyalakan rokoknya. “Jadi, apa yang ingin kau ketahui?”

“Bagaimana kalian bisa menjadi teman Aoi?”

Yuji menghisap rokoknya dalam – dalam dan menghembuskannya dari mulut dan hidungnya, “Entah dari mana aku harus menceritakannya padamu. Tapi, dulu kami berlima dulu adalah orang yang hidup dengan menjadi pencuri dan mengambil semua barang yang bisa kami jadikan uang, kami selalu menjadi kejaran polisi, di hajar oleh masyarakat...” Uruha terdiam dengan tenang. Mengetahui bahwa Yuji masih akan menceritakan ceritanya. “Jadi suatu hari kami berlima berniat untuk merampok mobil mewah yang sedang melintas di depan taman. Dan ternyata di dalam mobil itu adalah Aoi. Ia menghajar kami semua, ia orang yang sangat kuat. Kami semua kalah dengannya, lalu saat ia akan segera kembali ke dalam mobilnya, Takeru menarik kakinya dan memohon kepada Aoi agar ia memberikan sedikit uang untuk kami. Saat itu yang aku hanya pikirkan adalah betapa rendahnya harga diri kami, kami mengemis kepada orang.” Uruha menarik nafasnya dengan gugup, sedikit terkejut mendengar cerita Yuji barusan. Yuji pun hanya tersenyum malu kepada Uruha dan menghisap rokoknya sebelum kembali bercerita “Ku kira setelah Aoi mendengar perkataan Takeru barusan, ia akan menendang muka Takeru dan mengucapkan sumpah serampah kepada kami... tapi ia malah berlutut kepada Takeru dan menyuruh kami semua untuk masuk ke dalam mobilnya. Pertama ku kira ia akan membawa kami ke dalam kantor polisi, tapi ia membawa kami ke rumah megahnya.” Yuji kembali menghisap rokoknya. ”Kami di berikan perawatan untuk luka – luka kami dan di berikan baju ganti yang sepertinya mahal... setelah itu, ia menawarkan kami untuk membuka suatu usaha dan ia berniat memberikan kami modal. Saat pertama kami menolaknya, karena kau tahu kan—yah~ kami malu pada diri kami sendiri yang bergantung kepada orang lain. Tapi ia mengatakan ‘it’s okay’ dan kami pun akhirnya membuka toko SCREAM PARTY. Ia membuka toko ini dengan nama kami dan mengatakan bahwa toko ini adalah milik kami. Sejak saat itu, kami semua menghormatinya. Dan ia pun sering datang ke sini dan menceritakan semua keluh kesahnya kepada kami...”

“Maksudmu semua keluh kesahnya?” Uruha terbelalak tak percaya.

Yuji pun mengangguk pelan, “Benar, tapi entah mengapa ia tidak pernah menceritakan kalau ia bertemu denganmu danm mempunyai teman di sekolah, padahal kemarin ia ke sini juga... Maukah kau memberitahukanku darimana kau mendapatkan nama panggilannya?”

“Aoi sendiri yang memberikannya kepadaku,” jawab Uruha jujur apa adanya.

“Hemm...” Yuji hanya mengangguk pelan. “Dengarkan aku, Uruha. Aoi hanya akan memberikan nama panggilannya kepada orang yang ia percaya, jadi kau sebaiknya jangan sekali – kali mempermainkan perasaannya atau kau akan berurusan dengan kami berlima.“ Ucap Yuji serius.

Uruha hanya menelan ludah saat mendengar perkataan Yuji barusan. Aoi? Percaya padaku!?— batin Uruha.

“Satu lagi, Aoi adalah teman kami. Jadi siapapun yang berteman dengannya adalah teman kami juga. Termasuk kau, kau sekarang adalah bagian dari kami. Kau dapat mengunjungi toko ini kapanpun kau mau, oke?“ ucap Yuji yang mendadak ceria. Dan Uruha pun hanya mengangguk pelan.


***


to be continue...

FANFIC - usual love story, [chapter 5]

Title : usual love story
Author : Kanon Kuroii
Chapter : 5/??
Genre : romance, humor
Pairing : AoixUruha, ToraxAoi (one-sided), more to come
Rating : PG-13
Warning : Manxman, idiot author
Disclaimer : I put them in the dungeon. I DON’T OWN THEM!
Comment : fanfic series pertama^^d

Prologue/Chapter 1/Chapter 2/Chapter 3/Chapter 4




Aoi terbangun dari kasur King Size-nya yang sangat empuk dan nyaman. Ia mengucek matanya dengan malas. Ia masih terlalu lelah gara – gara terlalu asik bermain gitar hingga larut malam. Ia pun menarik tubuhnya agar bangun dari kasur dan berjalan ke arah kamar mandi. Walaupun hari ini adalah hari Minggu, tapi Aoi selalu mandi pagi karena itu sudah menjadi kebiasaannya. Ia menyalakan showernya dan membuka bajunya. Kulit putihnya pun terlihat dengan jelas dari kaca besar yang berada di kamar mandinya. Ia menatap bayangannya di cermin, seorang anak yang tidak pernah tahu apa tujuannya untuk hidup. Seorang anak yang hanya mengikuti segala kemauan orang tuanya. Seorang anak yang bagaikan boneka.

Aoi menghelakan nafas dengan pelan dan segera memalingkan pandangannya dari cermin sambil berjalan ke arah shower. Ia hanya terdiam di bawah guyuran air yang turun seperti hujan deras—atau seperti dirinya yang sedang menangis.

Beberapa menit kemudian akhirnya Aoi memutuskan untuk keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian rapi seperti biasanya.

Aoi pun segera turun menuju ruang makan, dimana ia menemukan sudah ada adiknya yang sedang siap untuk sarapan.

“Ohayo, onii-san“ Shiroyama Kanon, adik serta anak paling muda di keluarga Shiroyama. Ia hampir memiliki sifat yang mirip dengan Aoi. Hanya saja Kanon lebih terkekang daripada Aoi karena ia adalah pewaris dari orkestra Shiroyama.

“Ohayo,” Aoi segera duduk di kursi yang berada di depan Kanon. Mereka berdua makan dengan tenang. Tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka.

“Kemana ayah, ibu dan Miyavi?“ akhirnya Aoi memutuskan untuk membuka pembicaraan di antara mereka.

Kanon menatap muka kakaknya dengan tatapan yang sedih, “Ibu sedang ada konser di Kanada dan ayah sedang sibuk mempersiapkan konser tunggal orkestranya yang sebentar lagi akan di pentaskan di Tokyo Dome.“ Aoi hanya mengangguk pelan. Ini adalah hal yang biasa di dalam keluarga Shiroyama. Mereka semua selalu sibuk dengan urusan mereka masing – masing. Ibunya yang selalu mengadakan konser di seluruh penjuru dunia, ayahnya yang selalu berlatih bersama orkestranya. Hanya Miyavi, Aoi dan Kanon dan para pelayan yang selalu berada di rumah—atau itulah yang Aoi pikir— Miyavi, Aoi dan Kanon hanya menemui kedua orang tuanya 5 atau 8 bulan sekali.

“Hmm...“ ia pun hanya bergumam sambil melahap makanannya.

“Sedangkan Miyavi nii-chan masih tertidur di kamarnya,” Kanon menambahkan.

“Ah~ Kami-sama no Hentai* itu memang selalu bangun kesiangan,”

“Onii-chan,” Kanon memanggil Aoi dengan suara pelan.

“Ada apa?”

“Bisakah—bisakah kau mengajariku bermain gitar? Aku tahu ayah dan ibu tidak akan mengizinkanku dan akan memarahiku kalau aku bermain gitar. Tapi aku ingin bisa bermain gitar seperti Onii-san dan Miyavi nii-chan...“ ucap Kanon lesu. Kedua orang tuanya sangat protektif kepada Kanon karena Kanon adalah

***

“Pagi ayah, pagi ibu...“ Uruha menyapa kedua orang tuanya yang sedang sibuk membaca koran dan meminum kopi pagi.

”Ah... Kouyou-chan kau sudah bangun, bagaimana tidurmu?” Nyonya Takashima menyapa anak semata wayangnya yang baru saja memasuki ruang keluarga mereka.

”Hmm, tidur dengan nyaman!” ucap Uruha semangat sambil duduk di sebelah ibunya.

”Syukurlah kalau Kou-chan ke banggaan ibu ini bisa tidur dengan lelap semalam,” Nyonya Takashima mencubit pipi Uruha dengan pelan dan menyisir rambut Uruha dengan tangannya.

“Bu~ aku ini sudah besar, jangan perlakukan aku seperti anak kecil…” Uruha berusaha melepaskan tangan ibunya yang sedang asik menyisir rambutnya.

“Aww… anak ibu ini akan selalu menjadi anak kecil yang imut di mata ibu, iya kan ayah?”

“Betul Kouyou, bagaimana pun dewasanya kamu, kami pasti akan selalu menganggap kalau kau adalah anak kecil kami…” ucap Mr. Takashima sambil menaruh korannya dan meneguk kopi paginya. “Karena kami sayang padamu,”

Uruha segera menghampiri ayahnya dan memeluknya. Memang ia selalu menyadarinya, di antara sahabat 5 Bintangnya yang lain, hanya ia saja yang paling mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Tapi ia sangat bangga dengan hal tersebut, karena berarti kedua orang tuanya sangat mencintainya. “I love you Dad,”

Mr. Takashima hanya tertawa kecil mendengar perkataan anak tunggalnya tersebut dan memeluk pundak Uruha. “Katakan padaku, apa yang akan kau lakukan hari ini?”

“Hemm, entahlah. Sepertinya aku hanya akan pergi ke tempat Reita untuk menghabiskan waktu mengerjainya.”

“Haha. Aku turut prihatin kepada Reita karena memiliki sahabat yang sangat jahil sepertimu,” canda Mr. Takashima.

“Ayah~ kau kejam padaku!” Uruha pun memukul pundak ayahnya dengan riang.

***


to be continue...

FANFIC - usual love story, [chapter 4]

Title : usual love story
Author : Kanon Kuroii
Chapter : 4/??
Genre : romance, humor
Pairing : AoixUruha, ToraxAoi (one-sided), more to come
Rating : PG-13
Warning : Manxman, idiot author
Disclaimer : I put them in the dungeon. I DON’T OWN THEM!
Comment : fanfic series pertama^^d

Prologue/Chapter 1/Chapter 2/Chapter 3



KYAAAAAAA!! Uruha-sama! Ada apa dengan mukamu!?” para murid wanita pun menjerit histeris ketika melihat Uruha-sang-pujaan-hati-nya masuk ke dalam ruang musik dengan pipi yang biru dan membengkak.

“Benarkah Saga dari kelas E yang melakukan ini kepadamu!?” tanya salah seorang murid.

“Apa!? Saga yang mempunyai perut yang sangat seksi itu!?” tanya salah seorang murid yang lainnya.

“Beraninya ia melakukan hal yang kejam kepada Uruha-sama seperti ini!” protes murid yang lain.

“Semuanya, tenanglah. Aku hanya mendapatkan suatu pukulan ringan. Ini sudah tidak apa – apa kok. Terima kasih atas perhatiannya...” Uruha hanya tersenyum ramah kepada seluruh murid wanita yang mengelilinginya. Sebenarnya ia tersentuh atas ke khawatiran teman – temannya. Tapi sepertinya sikap mereka berlebihan.

Akhirnya setelah beberapa menit ia meladeni murid wanita tersebut, ia mohon diri dan berjalan ke arah bangku yang biasanya ia duduki. Dan ia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa...

Aoi tidak sedang berada di bangkunya. Ia tidak ada di mana – mana. Uruha pun menaruh gitarnya di atas meja dan segera keluar dari kelas tersebut. Ia menelusuri koridor demi koridor, tapi ia tidak menemukan sosok Aoi di manapun. Bahkan ia mencarinya hingga ke gedung kelas E berada.

“Well, lihat apa yang kita lihat di sini... Sang Kouyou-chan sedang berkunjung ke gedung E. Suatu kehormatan bagi kami,“ Saga tiba – tiba muncul dari ujung koridor gedung E. Pipinya juga tidak kalah lebam dengan Uruha.

“Aku sedang mencari seseorang, dan aku sedang tidak ingin membuat masalah.” Bela Uruha.

“Owh, kukira kau tidak punya teman dari kelas E. Ternyata kau cukup mudah bergaul, huh?“ cibir Saga, ia semakin mendekati Uruha. Dan dengan cepat, kerah seragam Uruha pun di tarik oleh Saga dan Uruha di dorong ke dinding. Uruha menahan sakit akibat benturan tembok dengan punggungnya. Ia tidak bisa menunjukkan kelemahannya di depan Saga, atau semuanya bisa makin kacau.

“Saga, ku peringatkan kau agar melepaskanku…” ucap Uruha berusaha tenang.

“Atau apa?” Saga segera mengarahkan tangannya ke arah Uruha. Uruha pun hanya memejamkan matanya. Mempersiapkan diri untuk menerima kepalan tersebut. Tapi tidak ada satu pun yang datang. Uruha pun membuka matanya.

Mata Uruha pun terbelalak, tak percaya apa yang sedang terjadi. Aoi. Berdiri di depannya dan memegang tangan Saga yang akan memukul Uruha.

“—Lepaskan,” Aoi menatap Saga dengan mata tajamnya dan mencengkram tangan Saga dengan kencang. Membuat Saga meringis kesakitan dan melepas genggamannya dari tangan Uruha.

Dengan tanpa bicara lagi, Aoi langsung menarik tangan Uruha dan pergi dari gedung E dengan cepat. Uruha hanya terdiam berjalan di belakang Aoi, mukanya merah padam. Bukannya karena ia kesal, tapi karena tangan Aoi tidak melepaskan genggamannya dari tangannya.

“A—Aoi,” Uruha memanggil Aoi pelan.

Aoi menghiraukannya.

“Aoi...”

Aoi tetap menghiraukannya.

“Yuu,”

“Bisakah kau diam sebentar saja!?” Aoi pun membalikkan badannya dan langsung membentak Uruha. Uruha pun naik pitam dan kesal.

“Ya! Tentu saja aku bisa diam! Hanya saja, bisakah kau melepaskan tanganku dari genggamanmu!? Karena kau memegang tanganku dengan sangat kuat dan sangat sakit!” dengan cepat Uruha langsung menarik tangannya lepas dari genggaman Aoi. Ia menatap Aoi dengan kesal, tapi kemarahannya segera memudar ketika melihat muka Aoi yang menunduk ke bawah dan memerah.

Ya tuhan... ia terlihat sangat lucu kalau sedang memeraaaaah, tunggu! Apa yang ku pikirkan!? - Uruha segera membuyarkan lamunannya tersebut. Tentu saja ia bukan seorang Gay. Aku masih normal! Uruha pun akhirnya menatap Aoi yang sedang memerah dengan bingung.

“M—maafkan aku,“ jawab Aoi gugup dan langsung pergi meninggalkan Uruha yang lagi – lagi terdiam di tengah koridor.


***

Back to Home Back to Top Zealotus. Theme ligneous by pure-essence.net. Bloggerized by Chica Blogger.